
Lembaga Riset Internasional bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan (LRI-PGK) merupakan salah satu lembaga baru di IPB University yang dibentuk untuk memperkuat riset di bidang pangan, gizi, dan kesehatan melalui kolaborasi lintas disiplin.
Kehadiran lembaga ini menjadi penting di tengah momentum Hari Pangan Sedunia, ketika isu ketahanan pangan, gizi, dan kesehatan menjadi perhatian global. Tantangan yang muncul akibat perubahan iklim, krisis pangan, serta tingginya angka malnutrisi menuntut adanya riset yang komprehensif, terintegrasi, dan berorientasi pada solusi nyata.
Hari Pangan Sedunia tahun ini mengusung tema “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future”.Tema ini mengajak seluruh elemen masyarakat—pemerintah, akademisi, petani, sektor swasta, dan komunitas—untuk bergandengan tangan dalam mentransformasi sistem pangan menuju masa depan yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan.
Menjawab kebutuhan tersebut, pada tahun 2023 IPB University membentuk beberapa lembaga riset baru, salah satunya adalah LRI-PGK. Lembaga ini diharapkan menjadi pusat riset strategis lintas disiplin yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan nasional dan internasional di bidang pangan, gizi, dan kesehatan melalui penerapan ilmu lintas disiplin dan kerja sama lintas sektor.
Kepala LRI-PGK IPB University, Prof Drajat Martianto, menjelaskan bahwa lembaga ini bertugas merencanakan dan mengoordinasikan pelaksanaan riset di berbagai pusat studi yang bergerak di bidang terkait. Pendekatan riset dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek hulu seperti produksi primer hingga aspek hilir seperti konsumsi, dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan, gizi, serta keamanan pangan nasional.
Prof Drajat menambahkan bahwa LRI-PGK juga mengintegrasikan pengetahuan dan teknologi lokal (indigenous knowledge and technology), terutama dalam peningkatan produktivitas, kesehatan, serta pengendalian penyakit pada manusia, hewan, dan tumbuhan.
“Riset yang dilakukan IPB University tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia,” kata Prof Drajat menegaskan.
Sejalan dengan semangat tersebut, LRI-PGK mendapat mandat dari IPB University, Bappenas, Badan Gizi Nasional (BGN), dan UNICEF untuk menjadi Centre of Excellence Program Pemenuhan Pangan dan Gizi (CoE PPG). CoE PPG memiliki empat fungsi utama, yaitu (1) pengembangan kapasitas melalui penyusunan kurikulum dan pelatihan bagi pengelola SPPG serta guru dan pengelola MBG di satuan pendidikan, (2) pengembangan model dapur dan ekosistem pangan yang mendukung penyediaan pangan bermutu dan berkelanjutan, (3) pengelolaan pengetahuan (knowledge management) untuk memperluas pembelajaran praktik baik, dan (4) pelaksanaan kajian lintas disiplin untuk mendukung kebijakan berbasis bukti di bidang pangan dan gizi.
Selain itu, LRI-PGK juga ditugaskan sebagai Koordinator Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi Bidang Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim, yang melibatkan kolaborasi lintas fakultas seperti Faperta, FPIK, Fapet, Fateta, dan Fema, serta berbagai pusat studi di IPB University.
Selanjutnya, dalam dua tahun terakhir, LRI-PGK juga mengoordinasikan persiapan pembentukan Rice Research and Innovation Center (RICE) yang bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas padi dan kesejahteraan petani padi di Indonesia melalui kerja sama dengan Korea International Cooperation Agency (KOICA). Inisiatif ini dijalankan dengan koordinasi Bappenas dan Kementerian Pertanian dan saat ini telah memasuki tahap akhir Basic Design Survey.
Berbagai pusat studi di bawah koordinasi LRI-PGK saat ini tengah menjalankan sejumlah program unggulan. Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) mengembangkan dan mendiseminasikan varietas unggul bawang merah. Pusat Studi Hewan Tropika (CENTRAS) melaksanakan program Miniatur Sistem Integrasi Sapi Pedaging di Lahan Kelapa Sawit (SISKA) yang mencakup kegiatan pembesaran sapi, pembangunan kawasan agroedutourism, serta pendirian pusat penelitian berbasis sapi perah dan kelapa sawit.
Program SISKA telah menunjukkan hasil yang signifikan dengan peningkatan populasi sapi hingga enam kali lipat di berbagai klaster di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Di sisi lain, South-East Asia Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center melaksanakan program penguatan sistem keamanan pangan nasional yang mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2025–2030, bekerja sama dengan mitra internasional seperti WHO, Colorado State University, IRD, dan PT Savica Nutrition International, serta lembaga nasional seperti Bappenas dan Kementerian Kesehatan.
Sementara itu, Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC) tengah mengembangkan inovasi obat herbal terstandar, termasuk produk pelangsing berbahan asam gelugur dan kunci pepet yang dikembangkan bersama PT Indofarma Tbk. Produk ini ditargetkan untuk komersialisasi pada akhir tahun 2025, disertai program pengembangan kapasitas bagi mahasiswa dan dosen.
Selain itu, Halal Science Center (HSC) yang berada di bawah naungan LRI-PGK juga menjalankan program pelatihan dan bimbingan teknis sertifikasi halal untuk rumah potong hewan (RPH), bekerja sama dengan Meat and Livestock Australia–Indonesia. Kegiatan HSC meliputi pelatihan juru sembelih halal, penyelia halal, pendampingan teknis, serta penyelenggaraan forum diskusi kelompok (FGD) dan sosialisasi kepada masyarakat.
“Melalui berbagai program tersebut, LRI-PGK IPB University terus memperkuat perannya dalam menghadirkan riset yang integratif dan kolaboratif untuk menjawab tantangan pangan, gizi, dan kesehatan nasional, sekaligus berkontribusi dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di tingkat global,” tutup Prof Drajat (dh)
Keyword : gizi,kesehatan,LRI PGK,pangan,pusat studi

